Selasa, 22 Februari 2011

Besok PSSI Tandingan Dideklarasikan di Surabaya

Puluhan suporter yang tergabung dalam Aliansi Suporter Indonesia dan Save Our Soccer, menggelar unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (20/2) menolak hasil verifikasi calon Ketua PSSI, yang hanya meloloskan Nurdin Halid dan Nirwan Bakri. (ANTARA/Fanny Octavianus)

Surabaya (ANTARA News) - Wakil Ketua Umum KONI Jawa Timur La Nyalla Machmud Mattalitti membuktikan ancamannya melawan PSSI pimpinan Nurdin Halid dengan membentuk PSSI tandingan esok Rabu (23/2).

"Deklarasi PSSI tandingan akan dilakukan di kantor PSSI Jatim di Surabaya pada Rabu. Ini salah satu bentuk perlawanan dan kekecewaan kami terhadap Nurdin Halid yang tidak mau mundur dari PSSI," kata La Nyalla kepada wartawan di Surabaya, Selasa.

Ia mengatakan pembentukan PSSI tandingan yang dipelopori Jawa Timur ini diharapkan menjadi awal gerakan perubahan dan revolusi di tubuh PSSI agar menjadi lebih baik dari sekarang.

"Jatim ini salah satu barometer sepakbola nasional dan kami siap menjadi pelopor gerakan revolusi PSSI," ujarnya.

Sebelumnya, La Nyalla menyatakan kekecewaannya atas hasil verifikasi Komite Pemilihan bentukan PSSI yang meloloskan Nurdin Halid sebagai salah satu bakal calon ketua umum pada Kongres PSSI di Bali, 26 Maret 2011.

Sementara nama George Toisutta dan Arifin Panigoro yang diusulkan sejumlah pengurus provinsi PSSI, tidak lolos verifikasi tanpa alasan yang jelas.

"Nurdin Halid sangat tidak layak untuk dicalonkan, apalagi dia mantan narapidana yang menurut aturan seharusnya dilarang memimpin organisasi olahraga," ujar Nyalla.

Dia menegaskan, organisasi PSSI tandingan ini akan terus dijalankan selama Jenderal TNI George Toisutta dan Arifin Panigoro ditolak masuk bursa calon ketua umum PSSI, dan Nurdin Halid tidak digugurkan dari pencalonan.(*)

Surat Terbuka Putrinya Nurdin Halid Untuk Rakyat Indonesia

Salam damai rakyat Indonesia,

Perkenalkan saya Andi Nurhilda Daramata Asiah Indasari, putri Bapak Nurdin Halid yang belakangan ini sedang diributkan oleh orang-orang. Saya satu-satunya putri dari enam bersaudara anak pasangan Nurdin Halid dan Andi Nurbani. Dari susunan keluarga ini saja saya sudah bisa melihat bahwa ayah saya orang hebat. Gen laki-laki sangat kuat. Kentara sekali gen orang Bugis dengan karakter lelaki yang kuat. Ya, ayah yang dilahirkan di Watampone pada 17 November 1958 memang dari keluarga Bugis.

Saya sengaja menulis surat ini lantaran ayah terus menerus dihujat. Masyarakat tampaknya termakan berita-berita di televisi maupun surat kabar. Sebenarnya, kalau mau fakta yang sesungguhnya, ada baiknya melihat tayangan tvOne dan ANTV, atau baca vivanews.com. Ketiga media ini menyuguhkan berita-berita independen tanpa prasangka. Sementara media lain lebih berat untuk menjatuhkan ayah saya. Menurut saya ini bukan lantaran ketiga media itu milik keluarga Aburizal Bakrie, senior ayah saya di Golkar, tetapi media itu ditangani orang-orang profesional macam Karni Ilyas, maupun Uni Lubis.

Sesungguhnya, tak benar jika ayah serakah kekuasaan. Ayah saya sekadar bumper dari orang-orang lain. Kisruh calon ketua PSSI bukan lantaran ulah ayah saya, tetapi kerja tim verifikasi. Lalu, kenapa ayah saya yang dihujat? Ini kolektif PSSI bukan Nurdin Halid!

Buat apa ayah saya cari kekuasaan di PSSI? Toh sebagai pengusaha, ayah saya sudah kaya. Saya bangga punya ayah Nurdin Halid. Ia bertanggungjawab kepada keluarga. Ada hal berkesan darinya saat saya nikah tahun lalu. Ayah sungguh-sungguh memperhatikan kepentinganku. Aku bisa pesta di hotel mewah di Makassar, Hotel Clarion. Di ballroom pula! Pesta berlangsung meriah dengan balutan “kemegahan”. Ayah orang hebat, terbukti 8.000 orang undangan hadir di pesta pernikahanku.

Kata omku, Kadir Halid, khusus pesta pernikahan di Makassar menelan biaya Rp 1,5 miliar-Rp 1,8 miliar. Total biaya tiga acara, Jakarta, Makassar, dan Sinjai konon menghabiskan Rp 5 miliar. Untuk menghibur tetamu, keluarga juga menghadirkan artis ternama Tanah Air, duet Anang dan Syahrini. Mereka yang hadir di antara tamu very important (VIP) di antaranya Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo beserta istri Ayunsri Harahap yang memboyong belasan kepala dinas dan kepala biro di lingkup pemerintah provinsi (pemprov). Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh beserta istri, mantan Gubernur Sulsel Amin Syam beserta istri, serta mayoritas bupati di daerah ini juga hadir. Mereka di antaranya Bupati Soppeng Andi Soetomo, Bupati Takalar Ibrahim Rewa, Bupati Jeneponto Andi Radjamilo, Bupati Pangkep Syamsuddin A Hamid, Bupati Maros Hatta Rahman, Bupati Lutim Hatta Marakarma, pimpinan dan anggota DPRD, serta politisi di Sulawesi ini.

Jadi, kalau ayah saya sebagai koruptor, jelas tak ada yang mau hadir dalam pesta perkawinanku. Mana ada lelaki yang mau sama putri seorang koruptor. Malah aku bisa dipersunting keluarga biru, Andi Seto Gadhysta Asapa, putra seorang politisi terkenal Rudiyanto Asapa. Coba, seorang politisi tentu enggan berbesanan dengan koruptor.

Mertuaku tahu, Nurdin Halid bukanlah koruptor. Ketika ayah menjadi direktur Inkud, ia rela ditahan karena memuluskan impor minyak goreng. Padahal ayah membantu para pejabat agar memperoleh bagian dari impor itu. Ayah rela pasang badan di bui demi pertemanan dengan yang lain. Begitupun saat dituduh korupsi cengkeh, ayah saya hanya menjalani jual-beli!. Lalu ada lagi ribut-ribut ayah saya korupsi di PSSI, walah musykil itu. Tak ada uang dari Persisam. Tak ada uang terkait cek perjalanan Miranda Gultom. Ayah saya orang bersih, tetapi iklhlas untuk jadi bumper teman-temannya.

Ayah saya bertanggung-jawab dengan nama Nurdin Halid yang berarti “cahaya agama yang kekal”. Setiap jengkap langkah ayah senantiasa berpayung agama. Maka, ayah pun mementingkan naik haji. Ayah ingin berjalan di jalur Tuhan, bukan syetan yang punya nafsu serakah. Rasanya, rakyat Indonesia keliru menilai ayah saya. Justru saya yang tahu persis, ayah saya orang bersih yang hebat. Sebab, kalau ayah buruk hati pasti ditinggalkan teman-temannya. Sampai sekarang, termasuk di PSSI, orang masih setia kepada ayah. Lihat Om Nugraha Besus. Lihat Om Nirwan Bakrie. Mereka loyal terhadap ayah, karena Nurdin Halid memang cahaya agama.
Mudah-mudahan surat terbuka saya ini menjadi pencerah bagi saudara-saudaraku yang terperangkap gelap. Ayah saya datang membawa cahaya buat saudara-saudara rakyat Indonesia. Terimakasih.

Saya yang membanggakan ayah,
Andi Nurhilda Daramata Asiah Indasari


Source : Tribun News

DONNY F SIREGAR : Niat Ke Medan Mampir Ke Bandung

Hadirnya Donny Fernando Siregar pada seleksi hari kedua Persib di stadion Siliwangi membuat bobotoh ingin tahu. Pasalnya dari seluruh pemain lokal yang mengikuti seleksi, hanya mantan tandem Pablo Frances di Persijap tersebutlah yang dikenal oleh bobotoh selain para pemain muda Persib U21.

Ditemui wartawan setelah melakukan pertandingan uji coba, Donny mengaku awalnya tidak ada pikiran akan ke Bandung. Sebelumnya ia berniat akan ke Medan untuk berbicara dengan PSMS Medan setelah Persiba Balikpapan mengabarkan akan mendepaknya pada putaran kedua Liga Super Indonesia 2010/11. Donny dilepas karena Persiba berencana untuk mengontrak gelandang asal Philipina.

“Saya dalam perjalanan menuju Medan. Namun dijalan saya mendapat kabar lewat telepon yang menyebutkan Persib sedang melakukan seleksi untuk menambah pemain. Langsung saja saya datang kesini dan ikut seleksi,” ungkap Donny sambil mengusap keringatnya.

“Saat ini Persib menjadi prioritas saya karena Persib bermain di Liga Super. Saya sih berharap bisa masuk, tapi semuanya saya serahkan kepada pelatih,” sambungnya.

Nasib baik rupanya masih menaungi Donny. Setelah hanya setengah babak bermain pada laga uji coba, pelatih Daniel Roekito membuka pintu untuk Donny untuk dapat membuktikan dirinya layak dikontrak Persib. Buktinya, ketika seluruh pemain seleksi dipulangkan, dan hanya 1 pemain asing yang direkomendasikan, Donny tidak langsung disuruh melanjutkan perjalanannya ke Medan. Mulai besok ia masih diajak untuk ikut latihan Persib untuk dipantau lebih intensif oleh Daniel.

Donny disebut Daniel bisa menjadi alternatif pemain di posisi gelandang yang biasa ditempati Hariono. Apalagi, 2 gelandang muda Persib, Munadi dan Jejen Zaenal sedang mengalami cedera dan belum dapat pulih dalam waktu dekat.

Sedangkan pemain asal Jepang yang direkomendasikan untuk diikat Persib, Shohei Matsunaga tidak dapat banyak berbicara karena kendala bahasa. Namun melalui seorang bobotoh yang bisa berbicara bahasa jepang, Matsunaga mengaku optimis dirinya bisa masuk skuad Persib. Selain itu ia juga mengatakan salut dengan antusiasme bobotoh yang menyaksikan latihan Persib terutama dalam sesi seleksi 2 hari belakang ini.

Sementara untuk spekulasi yang berkembang tentang Nova Arianto, manajer Persib Umuh Muhtar mengatakan sudah bertemu dengan Nova dan ia resmi mundur dari Persib. “Nova tadi siang datang ke rumah saya dan menyatakan mundur. Maka sudah dapat dipastikan Nova tidak bersama Persib lagi. Saat ini ia sudah pulang lagi ke Jogja,” ucap Umuh Selasa (22/2) sore.

Terlambat Karena Macet, Itimi Tak Sempat Seleksi

Malang benar nasib pemain asal Singapura Itimi Dickson, ia terjebak macet dalam perjalanan Jakarta-Bandung sehingga datang terlambat dan tak sempat mengikuti seleksi pemain yang diadakan Persib selama 2 hari mulai senin (21/2). Daniel Roekito menolak keinginan Itimi untuk bisa mengikuti kembali trial selama beberapa hari di Persib.

Itimi yang datang sendirian hanya bisa berdiam diri di mes Persib. Ia mengaku baru mendengan kabar Persib melakukan seleksi pada selasa siang melalui temannya. Begitu mendengar kabar tersebut, Itimi langsung membawa 1 buah koper dan pergi ke Bandung. Sialnya, lalu lintas yang padat mengharuskan Itimi sampai ke mes Persib, jalan Ahmad Yani, pukul setengah lima dan terlambat untuk ikut seleksi di stadion Siliwangi.

Setelah menunggu sekitar 2 jam, Itimi bertemu Daniel, namun Daniel terpaksa menolaknya untuk ikut seleksi lagi karena waktu untuk seleksi sudah habis. “Saya berharap pelatih dapat memberi kesempatan untuk saya ikut trial selama beberapa hari disini. Lalu lintas yang padat membuat saya datang terlambat untuk ikut trial hari ini. Saya kecewa karena harus kembali lagi ke jakarta,” ujar pencetak gol kemenangan Persitara Jakarta Utara ke gawang Persib di Jalak Harupat pada 1 Desember 2007.

Ia lalu langsung mengemas kopernya dan berencana kembali ke Jakarta memakai travel, namun sebelum naik taksi ia sempat menanyakan kabar dua pemain Singapura yang mundur dari Persib, Baihakki Khaizan dan Shahril Ishak. “Dulu saya tahu mereka bermain disini. Kemana mereka sekarang?” tanya Itimi.

Amanah Forum Suporter Indonesia

Liputan6.com, Solo: Forum Suporter Indonesia menggagas lima amanah kepada pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Bahkan, forum yang terdiri atas 19 kelompok pecinta sepak bola dari berbagai kota di Tanah Air itu mendatangi kantor PSSI di Jakarta, Selasa (22/2).

Lima amanah yang dinama; "Amanah Forum Suporter Indonesia" itu adalah:

1. Seluruh bakal calon Ketua Umum PSSI harus diakomodir dalam Kongres PSSI.

2. PSSI harus membentuk wadah atau komisi khusus yang mengurus suporter.

3. Mengundang semua kelompok suporter dalam Kongres PSSI.

4. Pelaksanaan Kongres PSSI harus memakai asas Pancasila dan UUD 45

5. Pelaksanaan Kongres PSSI harus terbuka untuk umum dalam setiap tahapan.

Kelima amanah itu disepakati ke-19 kelompok suporter itu di Colomadu, Karanganyar, Senin (21/2). Mereka menyatakan akan melakukan upaya sususlan, jika tuntutan tersebut ditolak pengurus PSSI. Salah satunya, menggelar aksi damai menolak pencalonan kembali Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI di Jakarta.

Ke-19 kelompok suporter itu, di antaranya Pasoepati Solo, The Jakmania Jakarta, Slemania Sleman, Snex Surabaya, Paserbumi Bantul, dan juga Aremania Malang.(CHR/SHA)

Suporter Indonesia: Revolusi PSSI Harga Mati

Liputan6.com, Jakarta: Massa yang tergabung dalam Aliansi Supporter Indonesia (ASI) akan tetap menuntut revolusi jika Nurdin Halid atau Nirwan Bakrie terpilih sebagai ketua umum PSSI. Mereka menilai Nirwan Bakrie masih bagian dari rezim ketua umum PSSI sekarang, Nurdin Halid.

"Nirwan adalah bagian dari rezim Nurdin. Jika dia terpilih menjadi ketua umum, maka kami akan tetap menuntut revolusi PSSI," tegas perwakilan Joglo Semar untuk ASI, Hilmi, Selasa (22/2).

ASI hari ini mendatangi Kantor PSSI di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta. Mereka bergabung dalam komunitas suporter lain yang juga mendesak revolusi terhadap PSSI. Sebab, organisasi tersebut dinilai bersikap otoriter terhadap sepakbola di Tanah Air.

Sebelum bergerak ke Senayan, masa ASI sempat menyambangi Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi di Jalan Rasuna Said Jakarta. Mereka bermaksud menanyakan kembali dua laporan yang dilayangkan beberapa waktu silam. Laporan pertama mendesak KPK segera menelusuri dugaan penyuapan terhadap manejer Persisam Samarinda. Kedua, terkait laporan dugaan Nurdin menerima cek pelawat sebesar Rp 500 juta.

ASI diterima humas KPK John Budi. Mereka berada di KPK selama dua jam. KPK menerangkan bahwa laporan tersebut bukan masuk dalam masalah penyuapan, namun gratifikasi. Alasannya, karena jumlah uang yang diterima tidak lebih dari Rp 1 miliar.(ULF)

Bonek Terlahir Kembali

Tren positif yang ditunjukkan dalam lawatan Bonek ke Bali untuk menyaksikan Persebaya 1927 melawan Gelora De Vata, Minggu (20/2/2011), harus dipertahankan. Namun ada juga beberapa persoalan yang harus ditangani.

Dalam lawatan ke Bali itu, selain menumpang kereta api seperti biasanya, Bonek dari berbagai komunitas juga menyewa 47 unit bus dan mengendarai puluhan mobil pribadi. Selama dalam perjalanan, tidak ada laporan kerusuhan sebagaimana yang diwaspadai. Bahkan, di jalur kereta api, Bonek mendapat sambutan dari kelompok suporter setempat dari Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.

Di Bali, tidak terjadi gesekan antara Bonek dengan warga atau suporter setempat. Warga malah menjadikan Bonek sebagai objek foto bersama. “Ada bapak-bapak naik mobil membeli kaos dari anak-anak Rp 50 ribu. Padahal kaosnya sudah lusuh,” kata Badi, Bonek asal Pasuruan.

Di Bali, rombongan Bonek juga bertemu dengan orang yang berpakaian Aremania, yang selama ini diidentifikasi sebagai musuh bebuyutan. “Ada yang nongkrong di Pantai Sanur,” kata Hanafi, Bonek asal Jakarta. Namun, tidak terjadi bentrokan atau pengeroyokan, kendati ribuan Bonek menghijaukan Pulau Dewata hari itu.

Di dalam stadion, pertandingan berjalan panas. Ada oknum penonton, yang diidentifikasi tidak mengenakan atribut suporter tuan rumah, melemparkan benda keras ke arah bangku cadangan dan pemain Persebaya. Namun, Bonek dan suporter Bali menjawab provokasi itu dengan nyanyian bersama dan Mexican Wave. Di ujung laga, Persebaya kalah 1-2, namun dua kelompok suporter saling bertukar atribut.

Nanang Ariadi, salah satu anggota Tim Sebelas Aliansi Suporter Indonesia, menyambut baik fenomena di Bali itu. “Tren positif ini harus terus dijaga. Bahkan meski Persebaya kalah, situasi dan kondisi tetap kondusif,” katanya, Senin (21/2/2011).

Nanang mengatakan, apa yang terjadi di Bali mengingatkannya pada era-era awal kelahiran Bonek tahun 1980-an. “Bonek tarlahir kembali, baik dari sisi semangat maupun sikap,” tambah Hanafi.

Dalam artikel berjudul ‘Bonek bin Chelsea’ di Majalah World Soccer April 2010, Dahlan Iskan, mantan bos Jawa Pos, menulis fanatisme terhadap Persebaya dibangun dengan meniru kesebelasan Chelsea. Saat itu, prestasi Persebaya tengah terpuruk, berbanding terbalik dengan saudaranya Niac Mitra.

Menurut Dahlan, waktu itu menyaksikan pertandingan Chelsea melawan West Ham United, ia melihat di mana-mana spanduk dan poster bertuliskan ‘Save The Bridge!’. Rupanya, para suporter Chelsea sedang berupaya menyelamatkan Stadion Stamford Bridge.

‘Yang juga mengesankan saya adalah: para penonton umumnya mengenakan topi, selendang, dan kaus biru. Di semua atribut itu ada tulisannya: The Blues.

Dahlan dan Jawa Pos meniru atribut Chelsea. Ratusan ribu topi, selendang (syal), dan kaus dengan slogan “Kami Haus Gol Kamu” dan ‘Low Profile High Product’ terjual. “Kami tidak menarik keuntungan, karena memang tujuannya hanya ingin menggerakkan Persebaya,” tulisnya.

Dahlan pula yang kemudian mengoordinasi puluhan ribu suporter Persebaya ke Senayan pada setiap final perserikatan di era akhir 1980-an dan awal 1990-an.

Majalah Tempo saat itu menulis: ‘Koordinasi yang bagus itu membawa gelombang baru di Senayan. Selain ada selendang dan topi, ada spanduk raksasa sepanjang 50 meter. Juga genderang dan terompet. Bahkan, mercun dan kembang api segala. Jarak Surabaya-Jakarta yang memakan waktu sekitar 13 jam bukan penghalang.’ Era away supporters dalam arti masif dan sesungguhnya dimulai di masa ini.

Kuncinya adalah koordinasi. Hanafi mengatakan, saat tret-tet-tet ke Bali, koordinasi dengan panitia pelaksana di Bali dan aparat kepolisian berbagai daerah berjalan bagus. “Para Bonek terlihat tertib bila ada yang mengoordinir dengan baik,” kata Wakil Kepala Kepolisian Resor Situbondo, Komisaris Erick Hermawan.

Namun, tentu saja masih ada yang harus diperbaiki. Selain ribuan yang terkoordinasi, masih ada ratusan Bonek yang tak terkoordinasi. Mereka biasa disebut ‘Bonek liar’. Mereka tak hanya dari Surabaya, dan biasanya berada di setiap stasiun tempat kereta api berhenti. Pemandangan ini jamak ditemui, setiap kali Persebaya bertanding tandang.

Tempo hari aparat keamanan sempat melarang ratusan Bonek liar masuk ke Bali, karena hanya membawa uang Rp 10 ribu dan tak membawa kartu identitas. Mereka inilah yang rawan melakukan kerusuhan.

Informasi yang diterima Saleh Ismail Mukadar, Ketua Umum Persebaya, ada Bonek yang terjatuh dari truk. “Ini yang memang berangsur-angsur harus kita perbaiki. Tidak bisa sekaligus. Tapi saya memberi apresiasi kepada anak-anak saya yang sudah bisa berlaku tertib,” katanya.

Hanafi sendiri berharap, jika ada bus gratis, maka Bonek liar bisa tertampung. Dengan begitu, sedikit modal yang mereka bawa bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan makan.

“Saya dengar rencananya kalau tret-tet-tet ke Bali sukses, Bu Risma (Wali Kota Surabaya) akan menyediakan truk polisi untuk ikut menampung suporter,” kata Hanafi.

Kereta api memang akan jadi pilihan utama para Bonek dari luar Surabaya. Namun yang terpenting, menurut Hanafi, mereka bisa menjaga nama baik Persebaya dan Bonek. “Mereka kini tahu, walikota akan memberikan bantuan asal bisa tertib,” kata pria berkacamata ini. Mereka juga diharapkan mau membawa uang saku secukupnya untuk bisa membeli makanan selama dalam perjalanan.

Sejauh ini, juga tidak ada informasi dari aparat kepolisian, Bonek liar berulah negatif dalam perjalanan ke Bali. Bahkan, di beberapa stasiun, mereka disambut langsung oleh kelompok suporter setempat. Bonek di Jember juga menyediakan bantuan nasi bungkus untuk kawan-kawan mereka itu sebagai tanda solidaritas.

“Bonek ternyata sangat ramah dan simpatik. Sehingga kekhawatiran akan terjadi penjarahan, sama sekali tidak terbukti,” kata Kapolsek Klakah, AKP Octa Panjaitan saat dihubungi, Senin (21/02/2011).

Dia menambahkan, ada 20 anggotanya yang dilibatkan dalam pengamana dan pengawal Bonek di stasiun Klakah dibantu 10 personil dari Koramil setempat. “Bonek yang naik kereta lewat Lumajang, aman dan lancar,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Kapolsek Randuagung, AKP Sidik. Menurutnya, pengamanan untuk Bonek di stasiun Randuagung juga berjalan aman dan lancar. Bahkan gesekan Bonek dengan warga yang dikhawatirkan, tidak terjadi sama sekali.

“Bonek sekarang dengan dulu beda, Bonek sekarang lebih dewasa dan simpatik,” ungkapnya.

source : beritajatim